Skip to main content

Minat Membaca: Ditemukan atau ditumbuhkan?


Membaca adalah hal biasa dengan efek yang luar biasa. Kalau sudah menemukan bacaan yang menarik, waktu berjam-jam bisa dihabiskan untuk membaca hingga puluhan lembar. Di zaman sekarang ini, minat membaca buku tergeser oleh minat membaca media sosial, baik berupa status, tweet, caption, comment, dan sebagainya. Ketika sudah menghadap media sosial di smartphone, waktu berjam-jam dihabiskan untuk kegiatan yang sebenanrnya tidak terlalu penting. Seandainya waktu yang digunakan untuk bermain medsos digunakan untuk membaca buku, maka tidak ada alasan tidak punya waktu untuk membaca.
Daripada menghabiskan banyak waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, akan jauh lebih baik jika kita membaca buku. Baik buku fiksi maupun nonfiksi, buku memberikan sedikit banyak hal yang dapat kita ambil manfaatnya. Baik pengetahuan baru, hiburan, motivasi, inspirasi dan banyak lainnya.


Memiliki minat membaca yang tinggi merupakan hal yang sangat baik karena dengan membaca banyak sekali manfaat yang diperoleh. Lalu, apakah minat membaca yang tinggi hanya terdapat pada beberapa orang tertentu? Apakah seseorang jarang membaca buku disebabkan tidak memiliki minat membaca? 
Saya sangat suka membaca, tapi mengeluarkan uang untuk membeli buku tampaknya bukan hal yang bebas saya lakukan, setidaknya waktu masih kecil dahulu. Saya hanya membaca buku yang bisa saya jangkau, entah itu dibelikan orangtua saya, hadiah dari teman, dan meminjam di perpustakaan sekolah. Akibatnya, tidak terlalu banyak buku yang saya baca padahal kalau sudah ada buku yang saya suka di tangan saya, saya sangat menikmatinya dan ingin segera membacanya sampai akhir. Buku favorit yang ada di rumah saya bisa saya baca berulang kali dan tidak merasa bosan. Tapi sayangnya itu berarti bacaan saya terbatas apa yang ada di hadapan saya. Jika ada lebih banyak buku yang bisa saya dapatkan, akan lebih banyak buku yang bisa saya baca. Tepi entah karena saat itu membaca buku-buku seperti novel termasuk dalam hiburan di waktu luang, saya menganggap tidak ada urgensi untuk membaca buku sebanyak-banyaknya.
Hingga suatu saat, setelah lulus kuliah, saya menghadiri wawancara kerja sebagai content writer. Interviewer bertanya apakah saya suka membaca. Dengan tegas saya menjawab ya. Namun, dari diri saya, saya merasa kurang yakin. Saya sadar bahwa memang benar saya suka sekali membaca tetapi bodohnya saya tidak meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca. Bukan karena tidak memiliki waktu, tetapi tidak meluangkan waktu. Minat itu selalu ada pada diri saya, hanya saja banyak hal lain yang lebih menarik perhatian dan mudah dijangkau, yaitu gadget. Mendengarkan musik, bermain game, menggunakan media sosial, menonton video, semua bisa dilakukan melalui smartphone. Gejala kecanduan gadget yang paling sederhana adalah ketika waktu berlalu sangat cepat ketika menatap layar smartphone hanya untuk menyusuri timeline Instagram. Akhirnya hanya bisa menyesal menghabiskan bebarapa jam tidak mengerjakan hal lain yang lebih penting. 
Kita tidak lepas dari membaca, baik membaca koran, majalah, media online, media sosial, novel, komik, buku pelajaran, biografi, buku resep, kitab, buku doa, brosur, pamflet, atau apapun. We are what we read. Kita adalah apa yang kita baca. Di masa sekarang, bacaan yang paling sering ditemui adalah artikel yang dibagi melalui media sosial. Aplikasi chatting populer seperti Whatsapp (WA) telah menjadi sarana yang cukup mudah untuk menyebarkan informasi. Orang-orang yang tergabung dalam grup chat (WA) dapat saling berbagi berbagai macam artikel, gambar dan video. Topiknya pun sangat beragam mulai dari politik, kesehatan, hiburan dan lain-lain. Tidak jarang saya mendengar orangtua saya menyampaikan suatu informasi yang didapatkannya dari grup WA dan postingan Facebook. Membaca postingan di media sosial seakan lebih akrab daripada membaca buku. 
Saya memutuskan untuk memperbanyak aktivitas membaca buku. Tidak ada lagi alasan untuk tidak membaca buku hanya karena tidak punya buku atau tidak punya waktu. Buku bisa dipinjam dari perpustakaan. Waktu pun bisa diatur meski hanya 30 menit hingga 1 jam saja, usahakan meluangkan waktu untuk membaca buku daripada main hp.  
Saya percaya semua orang suka dan butuh membaca, hanya jenis bacaanya yang berbeda. Yang penting baca bacaan yang bermanfaat. 

Comments